October 15, 2005

pindah blog

berikutnya.... .
timpakul berceloteh di:


terima kasih

Posted by timpakul at 23:19:01 | Permanent Link | Comments (0) |

October 05, 2005

totto-chan: mengurai benang kusut sistem pendidikan

buku toto-chanmembaca buku totto-chan: gadis cilik di jendela (Tetsuko Kuroyanagi) menjadikan emosi semakin meninggi menyaksikan sistem pendidikan yang berlaku di negeri ini. ditambah dengan sebuah analisis panjang  dalam buku pendidikan rusak-rusakan (darmaningtyas). semakin jelas bahwa negeri ini sedang digiring ke arah penghancuran.

Bila mengutip ungkapan Paulo Freire yang menulis buku Pedadogy of Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas) dan Cultural Action for Freedom (Gerakan Kebudayaan untuk Kemerdekaan), dimana Freire mengungkapkan bahwa pendidikan adalah untuk pembebasan dan bukan untuk penguasaan (dominasi). 

Sangat ironis dengan kondisi pendidikan hari ini di negeri ini, dimana setiap jengkal ruang pendidikan hanyalah sebuah penjajahan. Anak didik menjadi obyek penghisapan yang disertai dengan pemenjaraan atas kerangka berpikir. Ruang-ruang kreatifitas dibuntukan. Pendidikan telah menjadi sebuah bisnis yang semakin menjelaskan bahwa pendidikan bukan untuk yang tak berpunya.

Totto-chan, seorang gadis kecil yang berlebihan energi malah menemukan sebuah aroma pendidikan di sebuah sekolah gerbong, yang sistem pendidikannya mengarah pada penguatan bakat dan minat anak, serta memberikan ruang kreasi yang sebesarnya. Lingkungan sekolahpun sangat ditunjang dengan guru yang sangat memahami psikologis anak dan pendidikan, telah menjadikan anak dapat berkembang dengan sebuah senyuman.

Mungkinkah sistem pendidikan di negeri ini menggeser? Sepertinya sangat menjadi mimpi semata. Disaat benang sistem pendidikan telah semakin kusut. Lembaga pendidik guru yang telah menjadi sebuah mesin cetak yang tak berkemanusiaan telah menciptakan ribuan guru yang menganggap guru hanyalah sebagai ladang uang, bukan lagi sebagai pengabdian.

Menarik bila melihat apa yang dilakukan Mbak Retno (baca: Retno Memilih Jadi Guru dan Sosok dan Kiprah  Retno Listyarti), dengan sebuah kesadaran melakukan berbagai aktivitas diluar kegemarannya sebagai guru. Guru bukan sekedar pekerja, namun guru menjadi sebuah ruang pencipta lahirnya generasi yang kritis dan dinamis.

Toto-chan dan Mbak Retno mungkin tidak pernah bertemu, namun seandainya saja guru di negeri ini memiliki inovasi seperti Mbak Retno dan anak didik memiliki “kenakalan” seperti Toto-chan, bukan tidak mungkin sepuluh tahun ke depan negeri ini akan menjadi negeri pemimpin dunia, yang sangat tidak diinginkan oleh negara kapitalis di dunia hari ini. 

Posted by timpakul at 10:16:07 | Permanent Link | Comments (5) |

nge-blog di blogwithus

ada lagi tempat nge-blog pake wordpress... http://timpakul.blogswith.us/ 
Posted by timpakul at 05:05:37 | Permanent Link | Comments (1) |

October 03, 2005

belajar bikin komik

membuat komik ternyata mudah.... coba aja pakai stripgenerator. ini ada satu komik yang baru dibuat (atau diliat disini juga bisa):


 
Posted by timpakul at 11:10:21 | Permanent Link | Comments (2) |

October 01, 2005

kembali dari keterasingan

sepuluh hari berada di wilayah tanpa ha pe dan internet, menjengkelkan. 2000 lebih email menanti ditarik dari servernya. ya.. sepuluh hari berada di sebuah kampung dekat perbatasan indonesia-malaysia, mendengarkan cerita perjuangan, cerita romantika membuat batas, dan sejuta penantian dari ratusan rakyat indonesia yang menantikan kemudahan bertransportasi.
Posted by timpakul at 18:22:59 | Permanent Link | Comments (0) |

September 19, 2005

melihat-mendengar-merasakan-menuliskan

satu minggu ke depan, bakal liburan ke hulu sebuah sungai di Kaltim. Dalam sebuah kawasan yang katanya konservasi. Ya, satu minggu ke depan bersama kawan akan membantu mendorong lahirnya komunikasi antar staf peneliti dengan komunitas kampung di dekat stasiun penelitian mereka.

"Sayang banget selama ini para peneliti lokal belum menyampaikan informasi yang mereka dapatkan kepada masyarakat kampung mereka" demikian ujar staff lembaga konservasi yang katanya memperoleh mandat mengelola kawasan tersebut.

Tertarik. Bukan karena materi, namun ini lebih pada mencoba membangun semangat baru dari titik-titik yang terjangkaukan. Membangkitkan semangat berbagi dan juga semangat belajar bersama. Semoga saja perjalanan liburan kali ini akan sangat menyenangkan.

Dan satu minggu setelah itu, akan juga membangun semangat kawan-kawan di kota besar yang menggabungkan diri dalam sebuah wadah sahabat dari organisasi lingkungan hidup terbesar di Indonesia. Agar mereka menjadi sebuah bakteri yang akan menyebarkan semangat bersama, semangat berbagi, dan semangat bergerak untuk perbaikan lingkungan hidup di sekitar mereka. Entah mengapa, kami yang berasal dari sebuah kota kecil di tepian karang mumus diminta untuk melakukan pembelajaran bersama bagi kawan-kawan di jantung negeri ini.

Walau kami bukan seorang ahli. Kami sangat yakin akan membangun sebuah gerakan kecil di negeri ini. Menjadikan banyak orang sebagai bakteri yang membantu percepatan metabolisme tubuh gerakan lingkungan di atas negeri yang semakin dirapuhkan oleh kepentingan sekelompok anak negeri yang selalu mendengungkan kata sejahtera.
Posted by timpakul at 23:56:58 | Permanent Link | Comments (0) |

bermimpi menuju dunia maya

Pemilihan Rektor Unmul sudah menunggu waktu. Pun hari ulang tahun Unmul menghitung hari. Sejak akhir tahun lalu, Unmul selalu mendengung-dengungkan melajunya Unmul ke dunia internasional, sehingga setiap lulusan Unmul berwajib memiliki nilai TOEFL 400 (untuk S1) dan 450 (untuk S2). Tak ada yang salah dengan kebijakan ini, diluar kepahaman atas pembahasaan Inggris dalam keseharian Unmul yang masih sangat awam.

Sisi lain, sejak awal kelahiran UnmulNet sebagai sebuah mailing-list tempat bertemunya berbagai komponen Unmul di dunia maya, sudah sangat jelas tergambarkan tentang akses Unmul di dunia maya ini. Berbagai ungkap dan gagasan telah dilahirkan. Realisasi? Masih hanya dalam mimpi.

Ketika Unmul memperoleh sambungan internet dari Badan Promosi dan Investasi Daerah Kaltim, pun masih belum dapat termanfaatkan dengan baik. Hingga saat ini, masih berkutat dalam peralatan yang tak pernah henti merusakkan dirinya. Lebih jauh, kondisi topografi Unmul yang berombak seringkali dianggap sebagai penghalang.

Melihat nilai investasi yang digulirkan untuk melahirkan saluran ke dunia maya yang murah (bahkan gratis) bagi komponen di lingkungan Unmul, sebenarnya bukanlah hal yang mustahil. Ada yang menyampaikan seribu rupiah per bulan bagi setiap mahasiswa, maka akses itupun bakal diraih. Kemampuan penyiapan perangkat dan teknologi? Unmul saat ini telah memiliki jurusan Ilmu Komputer, selain juga bertaburannya para komponen Unmul yang beraktivitas dalam dunia-dunia ini.

Hitungan lain adalah dengan menggunakan akses internet satelit (yang walaupun agak mahal), namun dapat digunakan oleh satu fakultas yang berpenghuni seribu lima ratus orang, dengan biaya sepuluh hingga lima belas ribu rupiah setiap bulannya. Masih terlalu mahal? Memang, karena harus menunggu semakin murahnya biaya berselancar di dunia maya di Indonesia.

Mungkinkah mimpi terwujud? Sepertinya masih harus bersabar dengan pemimpin baru, yang semoga adalah seorang pemimpi pula yang mampu menyambungkan mimpi-mimpi ke dalam dunia senyatanya. Sehingga bukan tak mungkin, suatu saat Unmul akan menyelenggarakan konferensi virtual internasional tentang hutan tropis.
Posted by timpakul at 15:52:19 | Permanent Link | Comments (0) |

September 18, 2005

kekayaan intelektual komunitas

Bogor (Latin) --- Pengetahuan orang kampung, terutama tentang pengelolaan sumberdaya alam, saat ini sedang menghadapi ancaman kepunahan, karena belum ada upaya dokumentasi untuk kepentingan orang kampung itu sendiri. Memang sebenarnya banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti, tetapi hasil penelitian kebanyakan hanya digunakan untuk kepentingan peneliti semata. Dokumen hasil penelitian jarang sekali yang dikembalikan kepada orang kampung. Kalaupun ada, biasanya selalu berbentuk laporan formal yang tidak menarik dibaca oleh orang kampung.   [ Latin  dalam hutan.net ]

Mengenaskan! Hasil penelitian, hasil penggalian pengetahuan lokal, tak ada yang dimiliki oleh mereka yang menjadi obyek penelitian. Satu hal yang terjadi di sebuah kampung di Kaltim juga demikian. Lembaga yang dibangun oleh sebuah ornop di kampung tersebut, malah tidak memiliki dokumen-dokumen kegiatan yang selama ini dilakukan bersama. Hanya ada di kantor Ornop, demikian ujar pimpinan lembaga kampung.

Jauh sebelum ini, aku pernah belajar sistem informasi kampung, dengan peneliti dari sebuah universitas di california sebagai pelatihnya. Hal yang ia sampaikan ketika melakukan pelatihan adalah bahwa ia melakukan ini adalah agar masyarakat kampung dapat melakukan penelitian dan pendokumentasian kekayaan pengetahuan mereka secara mandiri. Bahkan ia pun, harus meminta ijin dari masyarakat untuk membawa catatan pelatihan kembali ke negerinya. Itu empat tahun yang lalu. Hari ini, ternyata lembaga yang melanjutkan program tidak lagi melanjutkan kegiatan tersebut, dan terlalu asyik masyuk dengan bisnis hasil hutan non kayunya.

HARUSNYA HARI INI TAK ADA LAGI PENCURIAN PENGETAHUAN LOKAL!

Posted by timpakul at 14:06:49 | Permanent Link | Comments (1) |

September 14, 2005

utamakan indonesia



siapa yang diutamakan ya?

[ http://www.bk.or.id/utamakan_indonesia ]


Posted by timpakul at 15:30:06 | Permanent Link | Comments (3) |

berinteraksi sosial

aku kadang tertarik berada di dunia sangat maya, dimana interaksi sosial sangatlah tidak dibutuhkan. ucap kadang bersalah makna dikala diterjemahkan dalam bentuk huruf dan rangkai kata. nilai interaksi sosialpun telah aku coba hilangkan dalam menjalani kehidupan, karena katanya dunia tidak akan mengarah pada peradaban sosial, namun dunia hanya akan berhenti berputar di lingkaran bermodal.

dua coretan kecil yang mengingatkan diriku pada sebuah perjalanan kehidupan. dua coretan dari inspiritor (mungkin ini sebutan yang bagi penggagas inspirit). satu di milis sistem hutan kerakyatan oleh inspiritor dan satu di news aggregator website kota samarinda yang mengutip blog pribadinya.

coretan pertama tentang kembalikan uang kami di sebuah milis mengulas bagaimana saling tukar keahlian dengan menggunakan mata uang jam kerja. pemikiran radikal, menurut beliau. gagasan ini mencoba menarik kembali pada bagaimana kehidupan di masa lampau, dimana sistem tukar (barter) sangat dikenal dalam kehidupan, yang kemudian digantikan oleh peran uang oleh para penguasa (pemilik kuasa di permukaan bumi) yang menjadikan para pelaku ekonomi yang kuat akan menjadi berkuasa. interaksi sosial telah semakin hilang dalam kehidupan saat ini setelah hadirnya lembaran kertas yang dianggap sebagai penukar barang ataupun jasa.

coretan kedua, bagaimana tumpukan keresahan akibat diganggu rombongan calon walikota  dan juga pelayanan publik  di sebuah kota kecil di tepian karang mumus. sang inspiritor ini sangat merasa terganggunya kenyamanan berkehidupan dan berinteraksi di sebuah kota kecil ini. segalanya dapat berubah dengan kepentingan sesaat, baik kepentingan kekuasaan ataupun kepentingan selembar kertas bernama uang. interaksi sosial kembali hilang sesaat kepentingan calon penguasa dan kepentingan kertas penukar (uang) kembali diberlakukan.

interaksi sosial, aku juga melihat semakin dihilangkan dalam kemudahan teknologi. email, website, milis. pun dalam sistem uang. bank, atm, kartu kredit. hingga dalam sistem komunikasi. sms, telepon. di dalam menukarkan barang, swalayan, mall, supermarket, minimarket, pun telah mengurangi interaksi sosial antar mereka yang berkehidupan. hingga akhirnya pelayanan publik di berbagai sektor pun telah kehilangan interaksi sosialnya. belum lagi diperparah dengan sistem pendidikan yang menyebabkan setiap manusia kehilangan nilai sosial.

agak mengganggu memang, ketika berbicara interaksi sosial, yang bagi sebagian mereka yang belajar tentang sebuah nilai yang disepakati disebut agama, telah dianggap sebagai jalan kesesatan. pluralisme, komunisme, sosialis, kata yang telah dihilangkan dari kamus para pihak yang menyatakan memimpin sekelompok manusia yang beragama. interaksi sosial dimaknakan pada hubungan dalam satu kelompok, tidak dengan kelompok yang berbeda. perbedaan disampaikan sebagai ruang yang tidak dapat dibenarkan.

menikmati dunia sangat maya ini tanpa sebuah interaksi sosial, memang lebih menyenangkan. individualis, bebas nilai, dan yang terpenting, siapa yang bermodal, berkuasa, akan menjadi pemenang. sementara gagasan, wacana, pemikiran, ide, hanyalah sebuah mimpi yang tak penting untuk diwujudkan.
Posted by timpakul at 14:17:35 | Permanent Link | Comments (0) |