Bila mengutip ungkapan Paulo Freire yang menulis buku Pedadogy of Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas) dan Cultural Action for Freedom (Gerakan Kebudayaan untuk Kemerdekaan), dimana Freire mengungkapkan bahwa pendidikan adalah untuk pembebasan dan bukan untuk penguasaan (dominasi).
Sangat ironis dengan kondisi pendidikan hari ini di negeri ini, dimana setiap jengkal ruang pendidikan hanyalah sebuah penjajahan. Anak didik menjadi obyek penghisapan yang disertai dengan pemenjaraan atas kerangka berpikir. Ruang-ruang kreatifitas dibuntukan. Pendidikan telah menjadi sebuah bisnis yang semakin menjelaskan bahwa pendidikan bukan untuk yang tak berpunya.
Totto-chan, seorang gadis kecil yang berlebihan energi malah menemukan sebuah aroma pendidikan di sebuah sekolah gerbong, yang sistem pendidikannya mengarah pada penguatan bakat dan minat anak, serta memberikan ruang kreasi yang sebesarnya. Lingkungan sekolahpun sangat ditunjang dengan guru yang sangat memahami psikologis anak dan pendidikan, telah menjadikan anak dapat berkembang dengan sebuah senyuman.
Mungkinkah sistem pendidikan di negeri ini menggeser? Sepertinya sangat menjadi mimpi semata. Disaat benang sistem pendidikan telah semakin kusut. Lembaga pendidik guru yang telah menjadi sebuah mesin cetak yang tak berkemanusiaan telah menciptakan ribuan guru yang menganggap guru hanyalah sebagai ladang uang, bukan lagi sebagai pengabdian.
Menarik bila melihat apa yang dilakukan Mbak Retno (baca: Retno Memilih Jadi Guru dan Sosok dan Kiprah Retno Listyarti), dengan sebuah kesadaran melakukan berbagai aktivitas diluar kegemarannya sebagai guru. Guru bukan sekedar pekerja, namun guru menjadi sebuah ruang pencipta lahirnya generasi yang kritis dan dinamis.
Toto-chan dan Mbak Retno mungkin tidak pernah bertemu, namun seandainya saja guru di negeri ini memiliki inovasi seperti Mbak Retno dan anak didik memiliki kenakalan seperti Toto-chan, bukan tidak mungkin sepuluh tahun ke depan negeri ini akan menjadi negeri pemimpin dunia, yang sangat tidak diinginkan oleh negara kapitalis di dunia hari ini.
membaca buku totto-chan: gadis cilik di jendela (Tetsuko Kuroyanagi) menjadikan emosi semakin meninggi menyaksikan sistem pendidikan yang berlaku di negeri ini. ditambah dengan sebuah analisis panjang dalam buku pendidikan rusak-rusakan (darmaningtyas). semakin jelas bahwa negeri ini sedang digiring ke arah penghancuran.



Recent Comments
tapi masalah
Saya sekarang bekerja di hungaria.<
Saya kaget den
itu bikin sendiri beneran???